Ilumine Nerezza part.1

“NAMA!” Seseorang berbadan tegap berteriak dengan lantang kepada orang yang sedang berada di depannya.
“Nere, Kak!” Nere merinding melihat sosok yang sedang berada di depannya. Ganteng-ganteng kok garang sih!
“NAMA LENGKAPNYA, BEGO!”
“Ilumine Nerezza!!” Nere pasrah. Hari-hari nya di SMA Nasional ini tidak akan berjalan mulus kayaknya.
“KURANG KERAS! GUE GA DENGER!” Si ganteng -tapi garang- ini terus saja berteriak-teriak, seakan tenaganya ga bisa habis.
“ILUMINE NEREZZA, KAK!” Nere muak diteriakin kaya begitu. Mentang-mentang kakak kelas, jadi boleh neriakin seenaknya, gitu?!
“Hmm.. Ilumine Nerezza..” Si ganteng -tapi garang- ini ga berteriak lagi. Membuat Nere menengadah ke arahnya (Nere daritadi nunduk terus, saking gugupnya). Tampang garang kakak kelas di hadapannya ini menghilang, digantikan dengan senyuman misterius, yang membuat Nere jadi bingung setengah mati.
“Ada yang salah, Kak?” Nere berusaha mengartikan senyuman misterius sang kakak kelas di hadapannya ini.
“Eh? Ga ada.” sang kakak kelas menatap Nere, melihatnya dari bawah sampai ke atas. Dari tatapannya, Nere tau kalau ia sedang dinilai oleh si kakak kelas. Dan jujur, Nere ga suka hal itu!
“Oh ya udah. Udah boleh masuk kelas kan, Kak?” Nere harus kabur cepet-cepet dari orang aneh ini!
“Ha? Oh iya, udah. Tapi Elo nyanyi dulu lagunya Kangen Band yang Selingkuh!”
“Hah?”
“Iya, Kangen Band yang Selingkuh! Tau kan? Boong Lo kalo gak tau!”
“I.. Iya deh, Kak.”
Tapi… Kamu kok selingkuh.. Tapi.. Kamu kok selingkuh..” Nere ga hapal bagian depan lagunya, dan Ia hanya menyanyikan reff-nya aja, itu juga dengan suara kecil.
“KURANG KERAS!”
TAPI.. KAMU KOK SELINGKUH! TAPI.. KAMU KOK SELINGKUH!!” Nere akhirnya pasrah. Cuek aja, deh! Mau seisi sekolah ngira dia gila juga dia ga peduli!

“HAHAHAHAHA! RE, ELU SEKARANG SELERANYA KANGEN BAND??!” Piu tertawa habis-habisan saat Nere melangkah masuk kelas. Nere yang tadi nyanyi dengan suara kenceng banget, tentu saja terdengar sampai ke dalam kelas.
“Diem, Lu!” Nere mana mau dibilang fans-nya Kangen! Kangen? Hiiy! Mana anak-anak lain juga ketawa lagi!
Hari pertama di SMA yang buruk.

“Eh, tadi Elu kok bisa sih sampe disuruh nyanyi lagunya Kangen?” Dian bertanya sambil mengunyah muffin yang dibawanya dari rumah.
“Ah tau tuh. Tadi cuma mau ke WC, kebelet. Eh begitu balik dari WC ketemu kakak kelas! Pas di depan kelas lagi! Jadilah gue dipanggil dia, dibentakin, ditanyain nama lengkap, terus disuruh nyanyi lagunya Kangen! Sarap kali yah tuh orang! Ospek aja belon mulai,” Nere merepet sambil makan nasi goreng buatan Bi Inah. Hampir aja keselek, saking semangatnya.
“Hahaha.. tapi ganteng juga tuh,” Dian sedikit kasian juga sih sama Nere, tapi yang ngerjain Nere tadi cukup ganteng, menurut Dian.
“Iya, ganteng-ganteng gila,” Nere tau -dan sadar- kalau kakak kelas tadi ganteng, tapi tetep aja Nere masih sewot!
“Hush.. Ga boleh gitu sama orang ganteng,” Dian yang emang dasarnya playgirl ini mulai nyeloteh ga jelas.
“Alah, Elu!” Nere tertawa mendengar ucapan Dian. Jahat amat sih Dian ini! Jadi kalau ganteng, kita ga boleh sebel gitu? Pilih kasih banget!
Nere, ABG yang baru lulus dari SMP Nasional High. Ia udah sahabatan sama Dian dari SD. Dan hokinya, mereka 1 kelas lagi di SMA Nasional ini.

2 minggu kemudian…

“Hei,” Seseorang menyapa Nere saat ia bersiap-siap untuk menyebrang dari perempatan dekat rumahnya.
“Hah? Siapa ya?” Nere kaget melihat orang yang tidak dikenalnya menyapanya. Secara otomatis Nere mengambil jarak dengan orang yang berdiri di sampingnya ini.
“Lupa sama gue?” Cowok itu menyunggingkan senyum manisnya.
Nere mengingat-ngingat kira-kira siapa orang itu. Kayaknya Nere pernah kenal.
“Ah! Kakak kelas yang waktu itu ngerjain Nere ya!” Nere akhirnya mengingat cowok ini. Ia tidak mengenalinya karena ini hari Minggu dan orang-orang akan berbeda saat memakai baju bebas.
“Iya yang itu,” Cowok ini terkekeh melihat tingkah laku Nere yang rada kekanak-kanakan.
Nere ga nyangka bakal bertemu mahkluk satu ini lagi di dekat rumahnya. Disapa ramah, pula! Nere berinisiatif untuk ikutan ramah dalam perbincangan yang mungkin, bisa membuatnya berteman dengan cowok ini.
“Ngomong-ngomong.. Nama kakak sapa?”
“Nama ya… Menurut Elo?”
“Yee.. Nama kok menurut Nere? Kakak punya nama, kan?”
“Ya iya, punya. Nama gue Federick Ridwan.”
“Panggilannya? Fede, Deri, Rick, ato Ridwan?” Nere meneliti orang yang berada di sampingnya ini. Dia memutuskan Dian 100% benar. Cowok satu ini emang ganteng abis!
“Hahaha.. Lucu juga ya Lu. Maunya manggil gue apa? Serah Lu deh.” Cowok ini mengeluarkan handphonenya, E90 Communicator yang sempat membuat Nere terperangah sedikit.
Nere ga boleh keliatan norak di depan orang ini.
“Hmm… manggilnya Rick aja ya? Keren gitu, kaya nama-nama bule. Hehe,” Nere terkekeh dengan nama yang dipilihnya.
“Sip, dan Lo? Waktu itu sapa nama Lo? Gue cuma inget tampang Elo doang sih,”
“Nere,” Nere menjawab singkat. Langit mulai mendung dan hujan kayaknya bakal turun lagi. Akhir-akhir ini memang sering hujan, walau pun harusnya musim kemarau.
“Oh.. yang nama lengkapnya Ilumine Nerezza itu,ya?”
Nere sedikit kaget, orang di sampingnya ini bisa inget nama lengkapnya tapi dia ga inget nama panggilannya yang jauh lebih pendek?!
“Iya.. yang itu,” Nere melihat jam tangannya. Udah mau sore, dia harus cepet-cepet pergi. “Anyway, Kak, Nere pergi dulu ya, harus cepet-cepet nih,” Nere bersiap menyebrang jalan, lampu merah untuk pejalan kaki sebentar lagi berubah jadi hijau.
“Oh ya udah,” Rick melambaikan tangannya. “Daah.. See you at school, Re,” Rick menyunggingkan senyumannya yang Nere yakin bisa bikin banyak cewek melumer-lumer. Tapi tidak untuk Nere. Ralat. Belum, tepatnya.

Mungkin hari-hari di SMA nya ga akan seburuk yang ia bayangkan.

Iklan

Paams on WordPress

Welcome

Halo…… Paams disini 🙂 (ya ialah) ini blog gue yang ke dua <– kerajinan abis.

Rencananya sih ni blog mau buat cerpen ajaaah.. cerpen-cerpen ‘buangan’ gue gitu 😀

liat juga blog yang isinya pengalaman-pengalaman pribadi gue, di http://paams.blogspot.com

see ya next time, friends!! 🙂